Enter your keyword

Eksotisme Ujung Kulon

Eksotisme Ujung Kulon

Eksotisme Ujung Kulon

Letak Dan Luas

Kawasan Taman nasional Ujung Kulon secara administrative terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Propinsi BANTEN. Secara geografis Taman Nasional Ujung Kulon terletak antara 102º02’32” – 105º37’37” BT dan 06º30’43” – 06º52’17” LS.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Propinsi Dati I Jawa Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Ujung Kulon maka luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah 122.956 Ha.

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang antara lain penginapan, pusat informasi, dermaga, dan lain sebagainya.

Pantai di Pulau Peucang memiliki karakteristik yang khas yaitu pasir putih dan hamparan yang luas. Obyek wisata alam yang dapat dinikmati di pulau ini antara lain tracking ke Karang Copong, berenang, snorkeling dan menyelam. Wildlife viewing dapat dinikmati dengan menyeberang ke Padang Penggembalaan Cidaon yang memakan waktu ± 15 menit dengan menggunakan boat kecil yang berkapasitas 6 (enam) orang. Di Cidaon ini kita dapat mengamati atraksi satwa seperti banteng, merak, rusa, dan babi hutan. Selain itu kita juga dapat melihat situs sejarah peninggalan kolonial Belanda berupa menara mercusuar dan bekas pembangunan dermaga di Tanjung Layar dan Cibom.

Pulau Peucang

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potensi obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Perbukitan Pulau Panaitan terbentuk oleh hutan yang masih asli dengan kombinasi vegetasi hutan mangrove, hutan pantai dan hutan hujan dataran rendah. Keadaan hutannya yang masih asli ini dihuni oleh berbagai jenis satwa liar seperti rusa, kancil, babi hutan, kera ekor panjang, buaya, kadal, ular phyton, dan aneka jenis burung.

Di Pulau Panaitan ini juga terdapat Arca Ganesha beserta benda-benda peninggalan sejarah lainnya yang mempunyai nilai historis sangat tinggi dan merupakan peninggalan jaman hindu kuno, tepatnya di Puncak Gunung Raksa. Kawasan pantai berbatu dan berpasir putih dengan terumbu karang yang indah di dalamnya sangat baik untuk kegiatan wisata alam bahari seperti menyelam dan snorkeling. Riak ombak di lautnya cukup tinggi sehingga cocok untuk berselancar.

Pada beberapa bagian kawasan daratan pulau ini sudah tersedia jalan setapak untuk mengakomodasikan kegiatan tersebut di atas, namun belum dilengkapi dengan sarana/fasilitas pendukung wisata lainnya terutama layanan akomodasi yang memadai bagi wisatawan.

surf-panaitan

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove.

Pesona yang bisa dinikmati di Pulau ini adalah daerah Cigenter, Padang Penggembalaan Cigenter, dan Cikabeumbeum yang jika ditempuh bisa menghabiskan waktu selama 2 (dua) hari. Untuk melewati daerah tersebut diperlukan perahu/kano karena akan menyusuri sungai.

Hal menarik lainnya yang bisa dilakukan di pulau ini adalah bersampan/canoing menyusuri Sungai Cigenter sambil melihat tipe hutan hujan tropis sepanjang sungai. Pada bagian hulu sungai terdapat rute jalan setapak yang melintasi tumbuhan bamboo menuju air terjun yang bertingkat.

handeuleum

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Ujung Kulon adalah Desa Tamanjaya.

Obyek wisata menarik yang terdapat diseputar Tamanjaya antara lain Desa Nelayan Cibanua, Curug cipaniis, sumber air panas Cibiuk, dan wildlife viewing owa jawa di Curug Cikacang. Akomodasi yang terdapat di Tamanjaya antara lain Penginapan Sundajaya, penyewaan perahu/kapal, perkumpulan pemandu/guide local, dan pusat pembuatan souvenir patung badak.

gunung-honje

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata alam yang dapat di lakukan di lokasi ini antara lain trekking, berkemah dan wildlife viewing.

Di Semenanjung Ujung Kulon terdapat jalur tetap yang dapat digunakan untuk trekking. Fasilitas lainnya adalah Pos Jaga yang terdapat dibeberapa titik seperti Karang Ranjang, Cibunar, dan Cidaon. Selain trekking, kegiatan wisata lainnya yang dapat dilakukan adalah wildlife viewing di Padang penggembalaan Cidaon dan Cigenter, berkemah di Tanjung Layar, dan wisata budaya di Goa Sang Hyang Sirah.

semenanjung-ujung-kulon

Aktivitas Wisata

Snorkling dan Diving di Ciharashas, Pulau Panaitan

Terumbu karang di Ciharashas termasuk terumbu karang yang masih dalam keadaan baik di taman nasional. Pengunjung dapat melakukan snorkling dan Diving di tempat ini sambil mengamati ekosistem bawah air yang indah. Tempat ini dapat dicapai dari Sumur 4-5 jam atau dari Carita 6-7 jam dengan kapal biasa, dan 2,5 jam dari Sumur atau 3 jam dari Carita dengan speed boat.

scuba-diving

Surfing di Legon Bajo, Pulau Panaitan

Kegiatan ini sangat menarik dan menantang bagi mereka yang suka tantangan. Ombak yang bergulung-gulung dengan pemandangan vegetasi pantai yang hijau menjadikan lokasi ini sangat sesuai untuk kegiatan surfing. Di tempat ini terdapat pula “One Palm Point” yang menjadi lokasi favorit para surfer.

surfing

Hiking ke Karang Copong, Pulau Peucang

Pulau Peucang menjadi salah satu tujuan utama ke Taman Nasional Ujung Kulon. Di bagian utara pulau ini terdapat sebuah karang yaitu Karang copong, karang mati besar yang berlubang (copong). Hiking ke Karang Copong dilakukan pada trail dari arah Dermaga Peucang masuk ke hutan hujan tropis dataran rendah dan keluar di karang copong. Sepanjang perjalanan menuju karang copong selama 50 menit, pengunjung dapat melihat hamparan hutan hujan tropis dataran rendah yang masih alami, dengan pohon-pohon ficus sp serta Kiara yang besar, burung hantu, tonggeret, babi hutan, Rusa, Merak, dan Monyet. Kemudian dari pantai Karang Copong, pengunjung akan melihat pemandangan sun set yang fantastis dengan latar belakang laut yang membentang indah. Perjalanan ke karang copong ini akan dipandu oleh petugas dari Taman Nasional.

karang-copong

Hiking ke Citerjun

Hiking ke Air Terjun Citerjun dapat dilakukan dari Cidaon, kurang lebih 1,5 km.   Akhir dari perjalanan hiking ini, pengunjung dapat melepas lelah dengan mandi di air terjun Citerjun yang bening. Letak air terjun Citerjun ini sangat strategis karena dekat dengan tempat sarana penginapan di pulau Peucang. Di daerah Citerjun ini dapat disaksikan air terjun yang artistik, sebuah pesona alam dengan seni yang tertata unik berupa paduan warna air sungai diantara tepian pantai yang berpasir. Teras Citerjun ini terbentuk oleh batu kapur dan stalagtit sebagai akibat aliran air sungai Citerjun. Kondisi demikian merupakan hasil dari suatu formasi geologi yang spektakuler.

Banteng Viewing di Cidaon

Kegiatan pengamatan banteng di Cidaon dapat dilakukan dengan menggunakan boat dan dilanjutkan dengan berjalan kaki ± 250 meter menuju padang penggembalaan Banteng. Di  padang penggembalaan Cidaon,  melalui menara pengintai pengunjung dapat menikmati atraksi banteng yang sedang merumput, burung merak dan kadang-kadang ayam hutan. Pada cuaca cerah, Banteng umumnya dapat dilihat di pagi hari sekitar pukul 06.00-07.30 dan pada sore hari pukul 16.30. Bila sore hari, sambil berjalan pulang ke Pulau Peucang, pengunjung dapat menikmati sunset di tepi pantai. Pengunjung bisa menghabiskan waktu sampai dengan matahari terbenam.

wildlife-viewing-di-cidaon

Snorkling dan diving di Cihandarusa, Pulau Peucang

Salah satu daya tarik lain yang menarik di pulau Peucang dan sekitarnya adalah terumbu karang di Cihandarusa, yang dapat ditempuh sekitar 15 menit dari Dermaga Peucang. Pengunjung dapat melihat taman laut yang indah dengan snorkling  atau diving. Tempat ini dapat diakses dari Sumur ± 2-3 jam dengan kapal biasa (slow boat), atau dari Labuan kurang lebih 4-5 jam. Pengunjung dapat makan di restaurant dan menginap di Pulau Peucang.

tabulate-branching

Canoing di Pulau Pamanggangan, sekitar Handeuleum

Pulau-pulau kecil di Handeuleum terutama Pamanggangan dan Cikabeumbeum merupakan tempat yang paling tenang untuk berkano. Dengan menyusuri sungai pamanggangan atau Cikabeumbeum yang sangat tenang dan sunyi, pengunjung dapat mengamati berbagai jenis burung seperti Raja Udang, Sruiti, Kangkareng, Rangkong dan kehidupan mangrove. Ketenangan suasana yang dipadu dengan pemandangan alam yang masih alami seakan membawa pengunjung pada dunia lain. Dengan dipandu oleh petugas taman nasional, pengunjung biasanya menghabiskan waktu 3-4 jam untuk menikmati kegiatan ini dan pengunjung bisa menginap di Pulau Handeuleum atau Peucang untuk beristirahat.

canoing-di-pulau-pamanggang

Hiking ke Tanjung Layar

Hiking Cibom-Tanjung Layar dapat menggunakan kapal motor dari pulau Peucang ke pantai Cibom, terus dilanjutkan ke Tanjung Layar (± 45 menit = 1,2 km). Di Cibom akan dijumpai sisa-sisa kegagalan pembangunan dermaga kapal oleh kekacauan politik dan wabah penyakit pada waktu itu, dan disini terdapat pula sebuah shelter yang menyediakan informasi mengenai kawasan ini. Jalan setapak menuju Tanjung Layar menyusuri pantai ke arah Barat. Di lokasi ini tersedia mercusuar, dengan pemandangan tanjungan berbatu dan pulau-pulau kecil yang cukup indah dan dapat dinikmati dari puncak menara mercusuar. Bila dilanjutkan ke Ciramea memakan waktu tambahan ± 2 jam (5 km), menyusuri pantai. Di Ciramea pengunjung dapat menikmati deburan ombak pantai selatan sambil mengamati tempat pendaratan penyu hijau (Chelonia mydas). Kegiatan ini dilakukan dengan didampingi pemandu (petugas taman nasional).

tanjung-layar

Penelitian di sekitar  Cigenter, Handeuleum
Sungai Cigenter berada di Semenanjung Ujung Kulon dan dekat dengan Pulau Handeuleum. Lokasi ini merupakan ekosistem yang kaya akan keragaman hayati. Ular phyton dapat ditemui di cabang pohon di kanan kiri sungai, burung seperti Raja udang, Srigunting sering terlihat di sekitar sungai. Sungai ini dapat disusuri dengan berkano. Di hulu sungai terdapat jalan yang menghubungkan ke Semenanjung Ujung Kulon, dimana tidak jauh dari air terjun terdapat kubangan Badak Jawa yang masih aktif digunakan. Tempat ini sangat sesuai untuk penelitian mengenai Badak Jawa, hutan mangrove maupun vegetasi lainnya. Pada bulan Juli-Agustus tempat ini ditutup untuk pengunjung, karena pada periode tsb Badak Jawa memasuki masa kawin (birahi), kecuali dengan tujuan untuk meneliti perilaku kawin Badak itu sendiri. Dukungan logistik dan penyewaan kano dapat ditemukan di Pulau Handeuleum.

Wildlife Viewing di Cigenter

Selain kegiatan penelitian, di sungai Cigenter ini pengunjung dapat menikmati kehidupan liar. Di sini pengunjung diajak untuk menyaksikan kehidupan satwa-satwa di hutan mangrove seperti kehidupan burung-burung, kehidupan reptil dan menyaksikan beberapa ikan sungai yang jarang dijumpai. Selain itu pengunjung dapat pula menikmati air terjun yang alami dan kubangan Badak dengan berjalan kaki di hulu sungai ini. Untuk kegiatan ini pengunjung harus dipandu oleh petugas taman nasional dan biasanya menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Kegiatan ini bisa diakses dari Pulau Handeuleum.

sungai-cigenter


Ziarah ke Gua Sanghyang sirah

Gua Sanghiang Sirah merupakan salah satu tempat untuk berziarah yang berada di sirah (kepala) Pulau Jawa. Pemandangan di sekitar gua sangat indah dengan formasi karang besar dan curam disepanjang pantai dengan dikelilingi vegetasi hutan pantai. Peziarah percaya bahwa Gua Sanghyang Sirah adalah tilas (tempat bertapa) Prabu Kian Santang yang diyakini masih berada di sana sampai saat ini. Untuk menuju Gua Sanghyang sirah, biasanya para peziarah trekking melalui jalur Tamanjaya -Tanjung Lame- Karang Ranjang dan kemudian menyusuri pantai selatan menuju Sanghyangsirah. Perjalanan ditempuh kira-kira 1-2 hari. Mereka biasanya menginap di perjalanan (tidur di hutan).

gua-sanghyang-sirah


Trekking ke Cibunar

Kegiatan ini biasanya dimulai dari Pulau Peucang dengan menggunakan speed boat menyeberang ke Cidaon, kemudian dilanjutkan dengan trekking dari Cidaon ke Cibunar, yang merupakan hutan pantai dan hutan hujan dataran rendah yang masih alami. Di sepanjang trail, pengunjung dapat menemui berbagai macam burung dan vegetasi pakan Badak. Trekking selama 3.5 jam dan dipandu oleh petugas taman nasional ini merupakan perjalanan dari pantai utara menembus pantai selatan dengan perbedaan karakteristik yang menarik. Sesampainya di padang penggembalaan Cibunar, pengunjung dapat menikmati atraksi kumpulan Banteng yang sedang merumput.

Sumber :

http://www.ujungkulon.org/

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.