Enter your keyword

Studi Kelayakan Kegiatan Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat Terpencil (KAT) Di Kabupaten Pandeglang

Studi Kelayakan Kegiatan Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat Terpencil (KAT) Di Kabupaten Pandeglang

Studi Kelayakan Kegiatan Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat Terpencil (KAT) Di Kabupaten Pandeglang

Kementrian Sosial Republik Indonesia bekerjasama dengan Dinas Sosial Propinsi Banten mengadakan kerjasama untuk melakukan Studi Kelayakan Kegiatan Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Desa calon yang akan diusulkan yaitu  Parungkokosan dan Desa Curug Kecamatan Cibaliung dan Cikeusik Kabupaten Pandeglang. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur diantaranya Supervisor dari Kementerian Sosial RI, Peneliti dari LPPM Untirta Serang, Dinas Sosial Provinsi Banten, Bappeda Kabupaten Pandeglang, Dinas/Instansi terkait baik tingkat provinsi maupun kabupaten, dan Pendamping dari Kecamatan.

Adapun tujuan dilaksanakannya studi tersebut adalah :

  1. —      Terhimpunnya data etnografis yang meliputi berbagai pranata sosial-budaya sesuai suku/sub suku warga lokasi kajian KAT;
  2.       Terhimpunnya data potensi dan sumber daya manusia dan lingkungan alam berikut faktor-faktor kendala, hambatan, peluang, dan potensipengembangannya;
  3.       Tersusunnya kebutuhan program/kegiatan dinas/instansi terkait selama proses periode waktu pemberdayaan;
  4.       Tersedianya bahan masukan untuk perencanaan program dan kegiatan pemberdayaan KAT selanjutnya.

Sementara tolak ukur kegiatan adalah terlaksanakannya studi kelayakan dan terhimpunnya data dan informasi tentang KAT dan untuk target kinerjanya adalah : Data by name by address calon sasaran pemberdayaan, Sumber dan potensi wilayah, Rekomendasi program/kegiatan pemberdayaan KAT.

 

Hasil Kajian.

Pangan dan Pola Konsumsi :

Tersedia secara subsisten, Ketersediaan Menu makanan dalam pola konsumsi keluarga tidak memenuhi standar gizi dan kesehatan makanan dan minuman, Frekuensi makan tidak teratur, Pola pembagian makanan antar anggota rumah tangga tidak ada yang dipentingkan satu dari yang lain, Cadangan pangan dikelola dalam skala rumah tangga tersimpan dalam bentuk fisik

gula merahkelapapadi

 

 

Permukiman :

Pola permukiman memanjang mengikuti jalan utama perkampungan, terbentuknya berdasarkan kekerabatan, Pola pemukiman melingkar tak berarturan , terbentuknya berdasarkan kekeluargaan, Ketersediaan sarana pendukung yang minimal( MCK, saluran limbah RT dan saluran air ,sarana ibadah dan Sarana sosial

pola rumah

Salah satu permukiman di Kampung Cinibung Desa Parung Kokosan Kec. Cikeusik

 

Adat istiadat : ruwat bumi, pola pengaturan posisi rumah, pernikahan.

Agama : Islam

Suku : Sunda

 

Sanitasi, Kesehatan dan Pendidikan :

  • —     Standar Kesehatan Rumah dan lingkungan sekitar minimal;
  • —     Fentillasi (sirkulasi) udara dalam rumah kurang memadai;
  • —     Pemeliharaan dan pemanfaatan sungai sebagai fungsi domestik masih rendah;
  • —     Penyakit Endemik: kolera dan kulit;
  • —     Kesehatan ibu, manula dan anak dibawah standar;
  • —     Tenaga Pengajar dan tenaga kesehatan frekuensi kunjungan dan kehadiran rendah;
  • —     Motivasi dan prestasi anak usia sekolah rendah;
  • —     Batra melalui orang pintar (yang dituakan) masih dominan;
  • —     Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan dan kesehatan masih rendah.

kesehatan1wcnyuci

 

Analisis Kebutuhan :

  1. Berdasarkan hasil studi kebutuhan yang perlu direalisasikan yang berkaitan dengan sarana dan prasarana lingkungan seperti : air bersih dan bak-bak penampungannya, MCK umum, sosialisasi program-program pembangunan, sarana sosial dan kesehatan serta bantuan usaha ekonomi produktif sesuai kondisi alam dan kemampuan masyarakat setempat. Berdasarkan kondisi tersebut kebutuhannya untuk pengembangan kawasan :
  2. Berdasarkan kesesuaian lahan dan iklim kawasan KAT Cocok untuk pengembangan pertanian dengan pola diversifikasi antara palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan dan budidaya atau perikanan keramba
  3. Berdasarkan ketersediaan teknologi : diperlukan pembinaan melalui bimbingan dan penyuluhan terutama yang berkaitan dengan teknologi budidaya dan bisnis pertanian dan ternak, pengolahan rumput laut.
  4. Berdasarkan Kemampuan pemeliharaan: yang diperlukan teknologi produksi, pengolahan dan pengemasan untuk meningkatkan harga jual serta mengubah orientasi penyimpanan dari tujuan konsumtif menjadi tujuan ekonomis
  5. Aspek ekonomi dan budaya: Peningkatan penghasilan, karena sebagian besar warga KAT bekerja dibidang pertanian maka yang diperlukan adalah pengembangkan teknologi pertanian; Penataan Lingkungan dan kelembagaan lokal, yang diperlukan adalah perubahan ke arah yang lebih baik tanpa merusak kearifan lokal
  6. Aspek Sosial: yang dibutuhkan kemajuan interaksi sosial warga berupa : kemudahan dalam akses memperoleh pelayanan pendidikan, kesehatan, perolehan barang kebutuhan pokok, menjual hasil produk pertanian dan kerajinan, perolehan informasi dan pengetahuan baru, melaksanakan acara ritual keagamaan, serta peningkatan kemampuan berorganisasi dan memecahkan masalah
  7. Aspek lingkungan : introduksi tanaman dan ternak dapat menambah populasi dan keragaman hayati tanpa harus merusak lingkungan

 

Faktor Pendukung dan Penghambat

Faktor Pendukung

  1. Adanya keinginan yang kuat dari masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup yang layak untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
  2. Mendapatkan dukungan dari aparat pemerintah setempat.
  3. Memiliki potensi wilayah yang subur, yang dapat ditanami berbagai jenis tanaman, perkebunan dan pertanian.
  4. Memiliki potensi lahan yang luas dan cocok untuk daerah peternakan dan perkebunan.

Faktor Penghambat

  1. Sarana jalan dan transportasi yang kurang memadai, untuk akses mengangkut hasil bumi dan hasil pekebunan lainnya.
  2. Tidak memiliki modal yang cukup untuk usaha.
  3. Sumber Daya Manusia yang tingkat pendidikannya rata-rata rendah
  4. Tidak memiliki sarana kesehatan yang memadai.
  5. Jauh dari pusat perekonomian.

Dari hasil studi KAT yang dilaksanakan di Kabupaten Pandeglang meliputi Desa Parungkokosan dan Desa Curug didapatkan kesumpulan bahwa dua desa tersebut yang diusulkan layak untuk diberdayakan menyangkut kehidupan masyarakatnya karena dirasakan masih belum memenuhi standar yang dibutuhkan, dengan rekomendasi sebagai berikut :

  1. —   Permasalahan yang dihadapi oleh warga KAT sangat kompleks sehingga program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (PKAT) tidak bisa dilaksanakan hanya oleh satu instansi, melainkan harus melibatkan Dinas / Instansi terkait baik tingkat provinsi maupun kabupaten;
  2. —    Sumber dan potensi yang dapat dikembangkan atau dimanfaatkan dari Desa Parungkokosan dan Desa Curug adalah di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan;
  3. —      Perlu penataan di bidang infrastruktur, khususnya penataan rumah warga yang kondisinya sangat tidak layak huni;
  4. —    Perlu dibangun fasilitas sarana air bersih dan MCK agar tingkat kesehatan masyarakat meningkat dan dapat mengubah kebiasaan pola hidup yang selama ini masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan air bersih;
  5. —     Desa Parungkokosan dan Desa Curug  Kabupaten Pandeglang layak untuk calon program pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil pada tahun yang akan datang dengan pola insitu.

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.